MENGUKIR PRESTASI LEWAT ANIMASI

MENGUKIR PRESTASI LEWAT ANIMASI
//

Anda masih terkagum-kagum pada kecanggihan dan kehalusan teknik animasi 3D film-film seperti Up, Ice Age, Madagaskar, Surf’s Up, Rattatouile dan film animasi 3D lain produksi perusahaan-perusahaan animasi Holywood dan merasa pesimis kapan kita bisa membuat yang seperti itu? Jangan khawatir, sejumlah animator lokal pun, juga telah mampu membuat teknik animasi 3D dengan kualitas yang hampir sama. Mereka memberikan kebanggaan tersendiri bagi kita, bahwa para pekerja seni animasi Indonesia pun, punya kemampuan yang setara dengan SDM animasi bangsa lain. Dan di Kick Andy, mereka berbagi kisah tentang pengalaman membuat film animasi.Castle Production misalnya. Perusahaan animasi lokal yang berdiri sejak 1998 ini, tanpa banyak terekspos publik, telah menjadi pengekspor film-film animasi, baik 2D maupun 3D, ke luar negeri. Sejumlah produsen film animasi di Eropa dan Amerika, telah menjadi langganan Castle Production sejak tahun 2000. Sejak tahun 2002 hingga kini, tak kurang sekitar 11 film animasi telah diekspor Castle ke sejumlah negara seperti Perancis, Spanyol, Jerman, Inggris hingga Amerika Serikat dan Amerika Latin. Sementara untuk pasar Indonesia, Castle telah memproduksi sekitar 6 film animasi. Salah satunya adalah animsi serial TV berjudul Kabayan Lip Lap yang telah diputar di TVRI pada 2008 dan kemudian di salah satu TV swasta nasional sejak Mei 2009 lalu. Bahkan Castle telah menerima beberapa penghargaan dari luar negeri atas komitmennya dalam mengembangkan teknik animasi. Sementara dari dalam negeri, Castle telah mendapatkan 3 rekor MURI sebagai pengekspor film animasi pertama dari Indonesia ke pasar Eropa dan Amerika, sekolah animasi 3D profesional pertama serta produsen film animasi yang membangkitkan “nation-pride” pada anak-anak Indonesia.

Sementara production house Tectra Film, menggarap film semi animasi 3D layar lebar Janus Prajurit Terakhir pada tahun 2002. Disutradarai Chandra Endroputro, yang pernah mengerjakan film Petualangan Sherina, Janus Prajurit Terakhir boleh dibilang menjadi film animasi 3D pertama di Indonesia. Dengan mengandalkan 14 orang animator, Janus dipenuhi teknik animasi 3D yang cukup memukau. Meski sebenarnya tidak seluruhnya animasi, karena mengkombinasikan animasi 3D dengan live action atau figur manusia betulan. Sayang, Janus hanya mampu bertahan di layar bioskop nasional selama 1 minggu saja. Menurut Chandra, saat itu mereka memang tahunya hanya membuat film saja, tanpa tahu bagaimana cara menjualnya. Namun paling tidak, Chandra dan rekan-rekannya mampu membuktikan bahwa orang Indonesia sudah bisa membuat animasi 3D dengan tampilan yang cukup mempesona.

Langkah Chandra dan Tectra Film diikuti oleh studio Kasatmata dari Yogyakarta pada tahun 2004. Pada tahun itu, sebuah film full animasi 3D lokal dirilis, berjudul Homeland. Bersama dengan yayasan Visi Anak Bangsa yang dibentuk Garin Nugroho, Homeland kembali menjadi bukti kemampuan animator lokal untuk unjuk gigi. Menurut Bayu Sulistyo, salah satu animator dari Kasatmata, Homeland melibatkan 12 orang animator. Namun, dengan SDM yang sangat terbatas itu, kualitas teknik animasi 3D Homeland tak terlalu jauh beda dengan animasi dari studio animasi Holywood, yang umumnya melibatkan banyak sekali animator. Yang menjadi kendala adalah dana pengerjaan yang terbatas dan strategi promosi serta pemasaran yang kurang jitu, sehingga akhirnya Homeland batal tayang di bioskop-bioskop Indonesia. Tapi Homeland akhirnya diperkenalkan ke publik Indonesia melalui roadshow ke kampus-kampus dan sekoleh-sekolah di 13 propinsi Indonesia. Satu yang patut dicatat, dari segi kualitas teknik animasi 3D, Homeland tak tertinggal jauh dengan film-film animasi impor.

Dan sebentar lagi, sebuah film animasi 3D terbaru akan segera tayang di bioskop-bioskop di tanah air pada bulan September 2009. Film Meraih Mimpi, adalah film animasi 3D musikal yang melibatkan puluhan pekerja seni komputer grafis Indonesia. Dewi Ratri, Produser animator yang terlibat dalam proses perekrutan animator, harus bekerja keras memilih para animator yang memiliki kemampuan di atas rata-rata dan gigih berinovasi. Dewi yang juga pernah terlibat dalam pembuatan Homeland, harus mampu membagi-bagi jenis pekerjaan dan SDM yang diperlukan. Misalnya menempatkan animator, tim komputer grafis, 2D artist, effect team, compositting team hingga supervisor sesuai jumlah dan tempatnya serta membuat anggaran.

Selain animator, proses produksi film ini juga melibatkan sejumlah artis dan pekerja seni Indonesia sebagai pengisi suara tokoh-tokoh yang ada dalam film. Nia Dinata yang menjadi produser Meraih Mimpi, melakukan casting yang serius untuk memilih pengisi suara yang cocok dengan karakter tokoh-tokoh manusia dan binatang di dalam film. Tak kurang dari Jajang C Noer, Surya Saputra, Gita Gutawa, Shanty, Ria Irawan hingga Patton “Idola Cilik”, harus melewati proses casting dan latihan yang ketat untuk bisa mengisi suara tokoh-tokoh Meraih Mimpi secara pas dan menarik.

Mereka semua membuka mata kita, bahwa industri kreatif animasi pun sanggup berkembang pesat dan memiliki prospek yang sangat besar untuk terus maju di Indonesia meski dengan segala keterbatasannya.

Komentar ditutup.