SEKOLAH ISLAM TERPADU SEBAGAI PENERAPAN DARI

I.  PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Kehidupan globalisasi telah dengan nyata melanda kehidupan kita. Suka ataupun tidak suka, ummat islam harus menghadapinya dengan segala implikasinya. Ciri-ciri kehidupan global antara lain : Pertama, terjadinya  pergeseran dari konflik ideologi dan politik kearah persaingan  perdagangan, investasi dan informasi; dari  keseimbangan  kekuatan (balance of power ) kearah keseimbangan  kepentingan (balance of interest). Kedua, hubungan antar Negara/ bangsa secara structural  berubah dari sifat ketergantungan (dependency), kearah  saling ketergantungan i(interdependency), hubungan yang bersifat primordial berubah menjadi  sifat tergantung  kepada posisi tawar-menawar (bargaining position).  Ketiga batas-batas geografis hampir kehilangan arti operasionalnya.  Kekuatan suatu Negara ditentukan oleh kemampunanya memamanfaatkan  keunggulan komparatif (comparative advantage) dan keunggulan kompetitif ( competitive advantage). Keempat, perasiangan antar Negara sangat  diwarnai  oleh perang penguasaan  teknologi tinggi.  Setiap Negara  terpaksa menyediakan dana  yang besar bagi penelitian dan pengembangan.  Kelima, terciptanya budaya dunia yang cenderung mekanistik, efisien, tidak menghargai nilai dan norma yang secara ekonomi tidak efisien.

Pergaulan global dengan cirinya  seperti diuraikan  diatas, disamping mendatangkan sejumlah kemudahan  bagi manusia, juga mendatangkan  sejumlah efek negatif  yang dapat merugikan dan dapat mengancam kehidupan.  Dampak negatif tersebut antara lain : Pertama, pemiskinan nilai spiritual. Tindakan social yang  tidak mempunyai  implikasi materi (tidak produktif) dianggap  sebagai tindakan tidak rasional.  Kedua, kejatuhan manusia dari mahluk spiritual  menjadi mahluk material,  yang menyebabkan nafsu  hayawaniayah menjadi pemandu  kehidupan manusia.  Ketiga, peran agama bergeser menjadi urusan akhirat  sedangkan  urusan dunia menjadi urusan sains (sekuleristik).  Keempat, Tuhan hanya hadir dalam pikiran, lisan dan tulisan,  tetapi tidak hadir dalam perilaku dan tindakan.  Kelima, gabungan ikatan primordial  dengan sistem politik modern melahirkan nepotisme, birokratisme, dan otoriterisme.  Keenam, individualistic.   Keluarga pada umumnya kehilangan  fungsinya  sebagai unit terkecil  pengambil keputusan.  Seseorang bertanggung jawab pada dirinya sendiri, tidak lagi bertanggung jawab pada keluarga.  Ikatan moral pada keluarga semakin lemah,  dan keluarga dianggap sebagai lembaga teramat tradisional.  Ketujuh, terjadinya frustasi eksistensialisme dengan cirri-cirinya : a).  hasrat yang berlebihan untuk berkuasa (the will power), bersenag-senang untuk berkuasa, bersenang-senang untuk mencari kenikmatan (the will pleasure) yang biasanya tercermindalam  perilaku yang berlebihan  untuk mengumpulkan uang (the will to money), untuk bekerja (the will to work), dan mengejar kenikmatan seksual (the will to sex); b).  kehampaan berupa eksistensi  berupa perasaan serba hampa, hidupnya tidak bermakna, dan lain-lain; c). Neurosis nogenik, perasaan  hidup tanpa arti, bosan apatis, tidak mempunyai tujuan, dan sebagainya.  Keadaan semacam  ini semakin banyak  melanda manusia, hari demi hari. Kedelapan,  terjadinya ketegangan-ketegangan informasi dikota dan di desa, kaya dan miskin,  konsumerisme,  kekurangan dan sebagainya.

Pendidikan islam memainkan peranan yang sangat penting  dalam mempersiapkan generasi  menghadai era yang penuh dengan tantangan. Pendidikan islam  harus mampu  menyelengarakan proses pembekalan pengetahuan, penanaman nilai, pembentukan sikap dan karakter, pengembangan bakat, kemampuan dan keterampilan, menumbuhkembangkan potensi akal, jasmani dan rohani yang optimal, seimbang  dan sesuai dengan tuntuan zaman.

Kenyataanya pendidikan islam khusunya diindonesia telah berjalan dalam lorong krisis yang panjang.  Pendidikan islam telah kehilangan pijakan filosofisnya yang hakiki, yang kemudian  berdampak pada  tidak jelasnya arah  dan tujuan yang hendak dicapai.  Pendidikan islam juga  tertatih-tatih dan gagap dalam menghadapi laju perkembangan zaman dan arus globalisasi.  Akibatnya, output pendidikan  islam, yang mestinya melahirkan generasi  “imamul mutaqien” malah melahirkan generasi yang gagap: gagap teknologi, gagap pergaulan global, gagap zaman bahkan gagap moral.  Perlu strategi yang tepat  dalam membangun pendidikan islam yang sebenarnya. Melihat permasalahan yang ada maka dalam tulisan ini kami mencoba untuk membahas masalah konsep pendidikan  islam terpadu yang akhir-akhir ini sedang tumbuh  dan berkembang dan mungkin menjadi harapan baru untuk kebangkitan pendidikan islam di Indonesia.

B.  Tujuan

Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu

1. Untuk  mengatahui konsep pendidikan yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh muslim

2. mengetahui konsep pendidikan yang diterapkan pada sekolah islam terpadu di Indonesia.

C. Pembatasan masalah

Dalam penulisan makalah ini masalah yang akan kami bahas dibatasi pada :

1. Bagaimana konsep pendidikan yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh muslim ?

2. Konsep pendidikan yang seperti apakah yang diterapkan di sekolah islam terpadu di Indonesia ?

II.  PEMBAHASAN

2.1.  Konsep Pendidikan Islam  Menurut Tokoh muslim

2.1.1.  Konsep Pendidikan Islam Menurut Ibnu Khaldun

Ibn Khaldun berpandangan bahwa manusia sebagai makhluk berfikir, dengan kemampuannya dapat memetik dan memahami hal-hal yang berada di luar dirinya. Pada mulanya, kemampuan itu masih berbentuk potensi. Dia menjadi actual (mencapai suatu titik perkembangan) melalui al-ta‘lim (pendidikan) dan al-riyadat (latihan) yang sesuai dengan gerak perkembangan fizikal dan mentalnya. Atas dasar inilah, pengaruh dunia luar terprogram dan dapat mengoptimalkan potensi manusia ke arah yang lebih sempurna.

Secara semula  potensi manusia tumbuh dan berkembang dalam tahap demi tahap. Proses tersebut berlangsung berlanjutan sejak dalam kandungan sampai meninggal dunia. Searah dengan itu, pendidikan bertujuan mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangannya. Oleh itu, Ibn Khaldun meletakkan pendidikan dalam kerangka tamadun (al-‘Umran). Pendidikan merupakan bahagian yang tidak dapat dipisahkan dari tamadun. Tamadun itu sendiri adalah isi pendidikan. Tamadun merupakan konsekuensi logik aktivitas manusia. Melalui kemampuan berfikirnya, manusia bukan hanya membuat kehidupannya, tetapi juga menaruh perhatian kepada pelbagai cara memperoleh arti hidup. Proses inilah yang melahirkan upaya pendidikan dan tamadun. Daya olah fikiran manusia dibentuk oleh persekitaran, lama kelamaan membentuk suatu sistem. Kristalisasi sistem itulah membentuk kebudayaan.

Bagi Ibn Khaldun, kebudayaan (al-thaqafat) adalah suatu aspek kemanusian. Kebudayaan mengacu pada masyarakat. Dengan kata lain, kebudayaan terbentuk sebagai hasil kecenderungan semula jadi manusia untuk bekerja sama. Dia merupakan alat untuk keperluan manusia. Melalui penciptaan budaya manusia meningkatkan kondisi hidup sesuai dengan persekitarannya. Dari segi ini pendidikan dituntut untuk dapat memajukan kebudayaan dan tamadun umat. Pendidikan dapat mengarah pada pencapaian tingkat hidup yang lebih baik dengan tingkat kebudayaan dan tamadun lebih maju. Berdasarkan pemikiran Ibn Khaldun tersebut, maka dapat diketahui bahawa dia mempunyai pemikiran pendidikan yang optimis. Pemahaman ini didasarkan pada pendapatnya, bahawa manusia mempunyai potensi yang dapat tumbuh dan dikembangkan melalui pendidikan. Demikian pula pendidikan merupakan salah satu sarana perubahan budaya, yang dapat mengubah aturan hidup menjadi lebih baik.

2.1.2.  Konsep Pendidikan Islam Menurut Murtadha Mutahhari

Murtadha Mutahhari seorang ulama, filosof dan ilmuan Islam sebagaimana dikutif oleh Mulyana yusuf dalam tulisanya Konsep pendidikan dalam islam menjelaskan bahwa iman dan sains merupakan karakteristik insani, di mana manusia mempunyai kecenderungan untuk menuju kearah kebenaran dan wujud-wujud suci dan tidak dapat hidup tanpa menyucikan dan memuja sesuatu ini adalah kecenderungan iman yang merupakan fitrah manusia.  Tetapi di lain pihak  manusia selalu ingin dan memahami semesta alam, serta memiliki kemampuan untuk memandang masa lalu, sekarang dan masa mendatang (yang merupakan cirri khas sains).

Berdasarkan uraian tersebut, dapat kita tangkap karena iman dan ilmu  merupakan karakteristik insani  yang bagaikan dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan,  maka pemisahan antara keduanya justru akan menurunkan martabat manusia.  Di samping itu adanya kemunduran adagium bahwa iman tanpa ilmu akan mengakibatkan fanatisme  dan kemunduran, takhayul serta kebodohan dan sebaliknya ilmu tanpa iman akan digunakan untuk mengumbar nafsu, kerakusan, ekspansionisme, ambisi, kesombongan, penindasan, pebudakan, penipuan dan kecurangan semakin menguatkan pendapat di atas.   Dengan kata lain, iman tanpa ilmu akan menjadi lemah sebaliknya ilmu tanpa iman  akan menjadi buta.

Pemisahan dan pengotakan antara agama dan sains jelas akan menimbulkan kepincangan dalam proses pendidikan, agama jika tanpa dukungan sains akan menjadi  tidak mengakar pada realitas dan penalaran, sedangkan sains yang tidak dilandasi  oleh asas agama dan akhlak atau etika yang baik akan  berkembang menjadi liar dan menimbulkan dampak yang merusak.  Karenanya konsep pendidikan  dalam islam menawarkan suatu sistem  pendidikan yang holistic dan memposisikan agama dan sains sebagai suatu hal yang seharusnya saling menguatkan satu sama lain.

2.1.3.  Konsep Pendidikan Menurut Mohammad Natsir

Pemikiran Muhammad Natsir tentang pendidikan islam adalah berlandaskan kepada : pertama, landasan normative yaitu pemikiran yang berlandaskan pemikiran islam yang memisahkan antara yang haq dan yang batil, menegakan yang haq dan mencegah yang batil.  Kedua, landasan historis yaitu  pemikiran yang diterapkan merupakan pengalaman yang didapat semasa hidup Muhammad Natsir, pendidikan dalam menuntut ilmu, pendidikan yang tidak membedakan kasta, ras ekonomi dan lain sebagainya, serta tidak ada dikotomi dalam menuntut ilmu. Ketiga kebenaran filosofis yaitu kebenaran yang hakiki adalah kebenaran Tuhan yang bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah namun setiap muslim wajib berijtihat untuk mencari kebenaran jika dalam Al-Qur’an dan As Sunnah tidak ditemukan dasar hukum, dan seorang muslimin tidak diperbolehkan taqlid buta.

Muhammad Natsir merumuskan pendidikan yaitu : universal, integral dan harmonis. Pendidikan integralistik tersebut berdasarkan tauhid dan bertujuan untuk menjadikan manusia yang  mengabdikan diri kepada Allah dalam arti yang seluas-luasnya dengan misi mencari kebahagiaan dunia dan akhirat.  Muhammad Natsir memandang Islam  bukan hanya dalam pengertian yang sempit melainkan ajaran tentang tata hubungan manusia dengan tuhan (Hablumminallah), pandangan hidup dan sekaligus jalan hidup way of  life.

Konsep pendidikan tersebut memang berasal dari ijtihad dan renungan Muhammad Natsir yang digali langsung dari Al-Qur’an dan Hadist.  Serta  berbagai tuliasan di majalah dan surat kabar dan didalam  konteks yang berbeda-beda disamping ceramah.  Akan tetapi  disisi lain adalah karena reaksi dan refleksi dari kenyataan histories dan sosiologis yang Muhammad Natsir temui yakni dimana konsep tersebut secara empiris sudah dilaksanakan di masa klasik tetapi saat itu sudah  jarang ditemui dimasyarakat islam dimana-mana.

Akibat dunia islam sekian lama berada didalam kegelapan karena di dominasi oleh pemikiran tasawuf  dan berada dalam penjajahan barat selama berabad-abad, maka konsep yang dipakai justru sebaliknya.  Yang ditemukan bukanlah universal, integral dan harmonis, tetapi konsep aprochcial, differensial, dikotomis dan disharmonis.

2.1.4. Konsep Pendidikan Menurut An Nahlawi

Memang tidak diragukan bahwa ide mengenai konsep-konsep dasar pendidikan banyak tertuang dalam ayat-ayat al Qur’an dan hadits nabi. Dalam hal ini akan dikemukakan ayat ayat atau hadits hadits yang dapat mewakili dan mengandung ide tentang konsep-konsep dasar tersebut, dengan asumsi dasar, seperti dikatakan an Nahlawi bahwa pendidikan sejati atau maha pendidikan itu adalah Allah yang telah menciptakan fitrah manusia dengan segala potensi dan kelebihan serta menetapkan hukum hukum pertumbuhan, perkembangan, dan interaksinya, sekaligus jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuannya. Konsep-konsep tersebut adalah sebagai berikut

Pertama, Konsep Integrasi. Suatu konsep yang seharusnya dianut adalah bahwa dunia ini merupakan jembatan menuju kampung akhirat. Karena itu, mempersiapkan diri secara utuh merupakan hal yang tidak dapat dielakkan agar masa kehidupan di dunia ini benar benar bermanfaat untuk bekal yang akan dibawa ke akhirat. Perilaku yang terdidik dan nikmat Tuhan apapun yang didapat dalam kehidupan harus diabdikan untuk mencapai kelayakan kelayakan itu terutama dengan mematuhi keinginan Tuhan. Allah Swt Berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) kampung akhirat, dan janganlah kanu melupakan kebahagiaanmu dari kenikmatan duniawi…” (QS. Al Qoshosh: 77). Ayat ini menunjukkan kepada konsep integritas di mana diri dan segala yang ada padanya dikembangkan pada satu arah, yakni kebajikan dalam rangka pengabdian kepada Tuhan.

Kedua, konsep Keseimbangan. Karena ada konsep integrasi, konsep  keseimbangan merupakan kemestian, sehingga dalam pengembangan dan pembinaan manusia tidak ada kepincangan dan kesenjangan. Keseimbangan antara material dan spiritual, unsur jasmani dan rohani. Pada banyak ayat al-Qur’an Allah menyebutkan iman dan amal secara bersamaan. Tidak kurang dari enam puluh tujuh ayat yang menyebutkan iman dan amal secara besamaan, secara implisit menggambarkan kesatuan yang tidak terpisahkan. Diantaranya adalah QS. Al-Ashr: 1-3, “Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian kecuali mereka yang beriman dan beramal sholeh.

Ketiga, konsep Persamaan. konsep ini berakar dari konsep dasar tentang manusia yang mempunyai kesatuan asal yang tidak membedakan derajat, baik antara jenis kelamin, kedudukan sosial, bangsa, maupun suku, ras, atau warna kulit. Sehingga budak sekalipun mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan. Nabi Muhammad Saw bersabda

“Siapapun di antara seorang laki laki yang mempunyai seorang budak perempuan, lalu diajar dan didiknya dengan ilmu dan pendidikan yang baik kemudian dimerdekakannya lalu dikawininya, maka (laki laki) itu mendapat dua pahala” (HR. Bukhori).

Keempat, Konsep Pendidikan Seumur Hidup. Sesungguhnya konsep ini bersumber dari pandangan mengenai kebutuhan dasar manusia dalam kaitan keterbatasan manusia di mana manusia dalam sepanjang hidupnya dihadapkan pada berbagai tantangan dan godaan yang dapat menjerumuskandirinya sendiri ke jurang kehinaan. Dalam hal ini dituntut kedewasaan manusia berupa kemampuan untuk mengakui dan menyesali kesalahan dan kejahatan yang dilakukan, disamping selalu memperbaiki kualitas dirinya. Sebagaimana firman Allah, “Maka siapa yang bertaubat sesuadah kedzaliman dan memperbaiki (dirinya) maka Allah menerima taubatnya…” (QS. Al Maidah: 39).

Kelima, konsep Keutamaan. Dengan konsep ini ditegaskan bahwa pendidikan bukanlah hanya proses mekanik melainkan merupakan proses yang mempunyai ruh dimana segala kegiatannya diwarnai dan ditujukan kepada keutamaan-keutamaan. Keutamaan-keutamaan tersebut terdiri dari nilai nilai moral. Nilai moral yang paling tinggi adalah tauhid. Sedangkan nilai moral yang paling buruk dan rendah adalah syirik. Dengan prinsip keutamaan ini, pendidik bukan hanya bertugas menyediakan kondisi belajar bagi subjek didik, tetapi lebih dari itu turut membentuk kepribadiannya dengan perlakuan dan keteladanan yang ditunjukkan oleh pendidik tersebut. Nabi Saw bersabda, “Hargailah anak anakmu dan baikkanlah budi pekerti mereka,” (HR. Nasa’i)

Dari keempat konsep pendidikan di atas dalam konteks pendidikan islam dapat disimpulkan bahwa pendidikan hendaknya menjadikan Al-quran dan Assunnah sebagai rujukan dan manhaj asasi  (pedoman dasar) bagi penyelenggaraannya dan proses pendidikan. Memadukan antara agama dan sains sebagai suatu yang saling berkaitan dan saling mendukung, harus bersifat universal, integral, harmonis, dan berlangsung sepanjang hayat

2.2.  Konsep Pendidikan  Islam Pada Sekolah Islam Terpadu

2.2.1  Pengertian Sekolah Islam Terpadu

Sekolah islam terpadu pada hakekatnya adalah sekolah yang meng implementasikan konsep pendidikan islam berlandaskan Al-Qur’an dan As Sunnah. Dalam aplikasinya sekolah islam terpadu diartikan sebgai sekolah yang menerapkan pendekatan penyelenggaraan  dengan memadukan  pendidikan umum dan pendidikan agama menjadi suatu jalinan kurikulum. Sekolah islam terpadu juga menekankan  keterpaduan dalam metode pembelajaran  sehingga dapat mengoptilmalkan ranah kognitif, afektif dan konatif. Sekolah islam terpadu juga memadukan  pendidikan aqliyah, ruhiyah dan jasaddiyah.  Dalam penyelenggaraannya  memadukan keterlibatan dan partisipasi aktif  lingkungan belajar yaitu sekolah, rumah dan masyarakat.

Dengan sejumlah pengertian diatas dapatlah ditarik suatu pengetian umum yang komprehensif bahwa sekolah  islam terpadu adalah sekolah islam  yang diselenggarakan dengan memadukan  secara integrative  nilai dan ajaran islam  dalam bangunan kurikulum dengan pendekatan pembelajaran yang  efektif  dan pelibatan  yang optimal  dan koperatif   antara guru dan orang tua, serta masyarakat  untuk membina karakter dan kompetisi murid.

Sekolah Islam Terpadu yang muncul sebagai alternatif solusi dari keresahan sebagian masyarakat muslim yang menginginkan  adanya sebuah institusi pendidikan islam yang berkomitmen mengamalkan  nilai-nilai islam  dalam sistemnya, dan bertujuan agar siswanya mempunyai kompetensi seimbang antara ilmu kauniayah dengan ilmu qauliyah, antara fikriyah, Ruhiyyah dan Jasadiyyah, sehingga mampu  melahirkan generasi muda muslim yang berilmu, berwawasan luas dan bermanfat bagi ummat.  Dengan tujuan menciptakan siswa yang memiliki  kecerdasan  Intelektual (Intelegen Quotient/IQ), Kecerdasan Emosional ( Emotional Quotient/EQ) dan kecerdasan Spritual (Spritual Quotient/SQ) yang tinggi serta  kemampuan beramal (kerja) yang ihsan.

2.2.2.  Karakteristik Sekolah Islam Terpadu

Dengan pengertian sebagaimana diuraikan diatas, maka sekolah islam terpadu memiliki karakteristik  utama yang  memberikan penegasan akan keberadaanya.  Karakteristik yang dimaksud adalah :

a. Menjadikan islam sebagai landasam filosofis.

b. Mengintegrasikan  nilai islam ke dalam bangunan kurikulum.

c. Menerapkan dan mengembangkan metode pembelajaran  untuk mengoptimalisasi proses belajar mengajar.

d. Mengedepankan  qudwah hasanah dalam membentuk  karakter peserta didik.

e. Menumbuhkan biah solihah dalam iklim  dan lingkungan sekolah : menumbuhkan kemaslahatan  dan meniadakan kemaksiatan  dan kemungkaran.

f. Melibatkan  peran serta  orang tua dan masyarakat  dalam mendukung tercapainya tujuan pendidikan.

g. Mengutamakan nilai ukhuwah dalam semua interaksi antar warga sekolah.

h. Membagun budaya rawat, resik, runut, rapi, sehat dan asri.

i. Menjamin seluruh proses kegiatan  sekolah untuk selalu berorientasi  pada mutu.

j. Menumbuhkan budaya profesionalisme yang tinggi dikalangan  tenaga pendidik dan tenaga kependidikan.

Kesepuluh ciri atau karakteristik tersebut menjadi acuan bagi sekolah islam terpadu untuk mengembangkan  dirinya menjadi sekolah  yang diinginkan  dan dimaksudkan  oleh gerakan pemberdayaan sekolah islam terpadu yang digelorakan oleh pengurus  Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) yang merupakan suatu gerakan da’wah berbasis pendidikan.

2.2.3  Tujuan Umum Pendidikan Sekolah Islam Terpadu

Tujuan umum pendidikan sekolah islam terpadu  adalah membina  peserta didik  untuk menjadi insan muttaqien yang cerdas, berakhlak mulia  dan memiliki  keterampilan  yang memberi manfaat dan maslahat bagi ummat manusia, dengan rincian karakter (muwashofat) sebagai berikut :

1. Aqidah yang bersih (salimul Aqidah)

Menyakini Allah Swt sebagai pencipta, pemilik, pemelihara dan penguasa alam semesta dan menjauhkan diridari segala  fikiran, sikap, perilaku bid’ah, khurafat dan syirik.

2. Ibadah yang benar (shahihul Ibadah)

Terbiasa dan gemar melaksanakan ibadah yang meliputi sholat, shoum, tilawah al-Qur’an, dzikir dan doa sesuai petunjuk Al-Qur’an dan AsSunnah.

3. pribadi yang  matang (matinul khuluq)

Menampilkan perilaku yang santun, tertib, dan disiplin, peduli terhadap sesama dan lingkungan  serta sabar, ulet dan pemberani dalam menghadapi masalah hidup sehari-hari.

4. Mandiri (Qadirun Alal Kasbi)

Mandiri dalam memenuhi segala keperluan hidupnya dan memiliki  bekal yang cukup  dalam pengetahuan, kecakapan dan keterampilan dalam usaha memenuhi kebutuhan nafkahnya.

5. Cerdas dan Berpengetahuan ( Mutsaqoful fikri)

Memiliki kemampuan berfikir  yang kritis, logis, sistematis dan kreatif  yang menjadikan dirinya  berpengaruh  luas dan menguasai  bahan ajar dengan sebaik-baiknya dan cermat serta cerdik dalam mengatasi segala problem  yang dihadapi.

6. Sehat dan Kuat (Qowiyul Jismi)

Memiliki badan dan jiwa yang sehat dan bugar, stamina dan daya  tahan tubuh  yang kuat, seta keterampilan  beladiri yang cukup  untuk menjaga diri dari kejahatan  pihak lain.

7. Bersungguh-sungguh dan disiplin ( Mujahidul Linafsihi)

Memiliki  kesungguhan dan motivasi  yang tinggi  dalam memperbaiki  diri dan lingkungannya yang ditujukan dengan etos dan kedisiplinan kerja yang baik.

8. Tertib dan cermat (Munazhzhom Fi Syu’unihi)

Tertib dalam menata segala pekerjaan, tugas dan kewajiban; berani  dalam  mengambil resiko  namun tetap cermat dan penuh perhitungan dalam melangkah.

9. Efisien ( Harisun ’Ala Waqtihi)

Selalu memanfaatkan wak tu dengan pekerjaan yang bermanfaat, mampu mengatur jadwal kegiatan  sesuai skala prioritas.

10. Bermanfaat (Nafiun Lighoirihi)

Peduli  kepada sesama dan memiliki kepekaan dan keterampilan  untuk  membantu orang lain  yang memerlukan pertolongan.

2.2.4.  Konsep Pendidikan Yang Diterapkan Pada Sekolah Islam Terpadu.

Membangun suatu sistem pendidikan yang baik berarti menyelenggarakan kegiatan pendidikan yang mampu membentuk kepribadian  peserta didik.  Dan kepribadian seseorang itu ditentukan oleh kualitas  dan kuantitas  pengalaman  belajarnya.  Dengan demikian  kegiatan pendidikan yang baik menunyut konsekuensi agar terbentuk  lingkungan  belajar  yang kondusif.  Arena (area) belajar yang baik  secara sengaja direkayasa  sedemikian rupa  sehingga  dapat membentuk  pengetahuan, sikap keterampilan yang ditargetkan.  Untuk membangun sekolah yang menggairahkan, maka seluruh proses kegiatan belajar mengajar mestilah dibangun dalam enam konsep  umum yaitu rabbaniyah, integratif, stimulatif, fasilitatif, inovatif dan motivatif.

1. Rabbaniyah

Sejarah islam membuktikan bahwa generasi rabbani adalah generasi yang mampu menjadi ummat yang terbaik.  Sebuah generasi rabbani akan menjadi solusi bagi umat dan zamannya.  Seorang generasi rabbani adalah sekumpulan  orang yang sempurna iman dan takwanya.  Al-Qur’an  surat Ali Imron ayat 79 menyatakan bahwa generasi rabbani senantiasa mengajarkan al kitab.

” Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia :”Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku  bukan penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata) : ” hendaklah  kamum menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya” (Q.S. Ali Imron : 79).

Pribadi rabbani akan sangat dekat dengan Allah dalam kondisi apapun  baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun dalam keadaan berbaring.  Generasi rannabi akan mampu mengaplikasikan  nilai-nilai cinta kepada rosulnya dalam  tataran amal yang konkrit (Al-Qur’an berjalan).

Dalam prakteknya, kegiatan belajar mengajar di sebuah sekolah islam  terpadu hendaklah mengacu pada nilai-nilai rabbani.  Aktivitas rabbaniyah hendaknya berlangsung terus menerus  selama proses pembelajaran.  Bentuk aktivitas rabbaniyah  meliputi aplikasi dzikir, fikir, tadabur, dan aplikasi amal.  Sebagai contoh ketika  menjelaskan fenomena alam  seperti hujan, banjir, gempa bumi, energi dan  sebagainya dikaitkan  dengan keagungan, kebesaran Allah  dan isyarat-isyarat dalam Al-qur’an dan hadist.  Contoh lain ketika seorang guru ekonomi menjelaskan  tentang perdagangan maka dijelaskan juga aturan  dan nilai-nilai islam  yang berkenaan dengan  adab dagang.

Dengan proses yang berlangsung demikian maka diharakan dapat mencetak  generasi yang memiliki seimbangan  dan penguasaan nilai-nilai kauniyah dan kauliyah.

2. Integratif

Konsep umum pembelajaran yang kedua ialah integratif.  Konsep integratif dapat berarti bahwa  dalam proses pembelajaran  memadukan secara utuh ranah kognitif, afektif, dan konatif.  Konsekuensinya, kegiatan belajar harus menstimulasi  ketiga ranah tersebut dengan menggunkan berbagai pendekatan,  metode dan sarana belajar.  Belajar tidak hanya berlaku pada pembahasan konsep-konsep  dan teori belaka.  Setiap pokok bahasannya  serta membimbing mereka  untuk masuk  pada aplikasinya.

Oleh karena itu pendekatan yang dilakukan  mesti;ah berbasis studen active learning.  Siswa mesti dirangsang untuk terlibat aktif dalam setiap aktivitas  dan guru lebih pada  fungsi fasilitator  dan motivator.  Dalam konteks ini, belajat melaui pengalaman  (experiental learning)  menjadi suatu pendekatan  yang sangat perlu mendapat perhatian dari pengelola sekolah.  Dengan pendekatan yang sangat perlu  mendapat perhatian  dari pengelola sekolah.  Dengan pendekatan langsung pada praktek yang memberikan  pengalaman nyata pada  anak didik tentang pokok bahasan.  Experiental  learning juga akan  menumbuhkan semangat  dan motivasi belajar  yang tinggi karena suasana menyenangkan dan menantang akan selalu mereka dapatkan.

Selain itu, konsep integratif juga menuntut agar  dalam pembelajaran seseorang  guru memperhatikan  potensi kecerdasan  yang dimiliki murid-muridnya.  Proses pembelajaran integratif  menuntut guru untuk  melibatkan  berbagai dimensi  kecerdasan manusia.  Dengan deminian maka dalam proses pembelajaran dapat  mengoptimalkan  potensi  kecerdasan  yang menonjol  pada seorang siswa serta mengembangkan potensi kecerdasan lainnya.  Beberapa pendekatan yang dapat dikembangkan  untuk memicu seluruh  sisi intelegensia antara lain dengan menggunakan model ” case study, project, service learning, thematic learning, dan perpormance learning.

3. Stimulatif

Kegiatan belajar yang efektif haruslah mampu  memberikan stimulasi yang optimal kepada peserta didik.  Memberi stimulasi yang optimal  sebaiknya menyesuaikan diri  dengan bagaimana  sifat-sifat dan gaya koggnitif bekerja,  dalam hal ini psikologi kognitif  dapat memberikan  sumbangan yang berarti  dalam upaya mengoptimalkan  kemampuan  daya serap anak dalam kontek belajar.  Riding (2002) dalam Tim JSIT Idonesia : memaparkan bahwa strategi belajar hendaknya mempertimbangkan bagaimana memory bekerja (working memory)   dan bagaimana gaya kognitif seseorang (kognitive style).  Kerja memori sangat mempengaruhi  performance seorang anak dalam menyelesaikan tugas-tuganya  yang melibatkan  kemampuan problem  solving, reasoning, penyerapan perbendaharaan  kata baru,  dan reading comprehension.

Sweller (1998) dalam Tim JSIT Idonesia: melakukan riset yang mendalam bagaimana sebaiknya proses belajar mengajar (instructional process)  memperhatikan masalah kognitive load  dengan rekayasa media belajar yang efektif.  Ia menyimpulkan bahwa belajar  akan mendapatkan hasil yang optimal apabila proses instructional  memperhatika split attention, redudancy effect, worked examples dan penggunaan multimedia.

Sementara itu, gaya kognitif seorang berbeda.  Riidng dan Cheema (1991) menyimpulkan bahwa gaya  setiap orang berfikir  terbagi atas dua gaya  fundamental yaitu : the wholist-analytic yaitu dimensi gaya berfikir yang cenderung mengelola sesuatu  dalam keseluruhan atau dalam bagian-bagian, dan the verbal imagery.; dimensi gaya berfikir yang cenderung  menamoilkan  proses berfikirnya secara verbal  atau dalam  bentuk mental pictures.  Dengan dua dimensi cognitive-style tersebut muncullah berbagai kombinasi gaya kognitif siswa,  seperti analytic verbaliser, analytic bimodal, analytic imager, intermediate verbaliser, intermediet bimodal, intermediet bimodal,  intermediet imager,  wholist verbaliser, wholist bimodal, wholist imager.  Sementara itu Lauren Bradway & barbara Albers Hill (1993) mengemukakan tiga jenis anak  dalam konteks bagaimana ia meyerap pelajaran, yaitu litsener, looker dan mover.

4. Fasilitatif

Kegiatan belajar mengajar  harus mampu meyediakan seluas-luasnya  sumber dan media belajar.  Belajar tidak hanya terpaku pada ruang kelas dan sumber belajar tradisional.  Sumber dan media belajar haruslah diperluas tidak hanya dilingkungan  sekolah namun juga dilingkungan  alam sekitarnya, masyarakat, instansi/lembaga, keluarga, mesjid, pasar, tokoh dan lain sebagainya.  Berbagai kegiatan informal juga  dijadikan media bagi proses belajar mereka, seperti : dalam  hal berpakaian, aktivitas makan dan jajan, aktivitas  ibadah, aktivitas kebersihan, aktivitas sosial.  Dengan memperluas sumber dan media belajar,  maka peserta didik akan mendapatkan  pengalaman yang membentuk kepribadian.

5. Inovatif

Materi pelajaran sangatlah variatif jenis dan sifatnya.  Sebagai contoh dalam pembelajaran sains ada yang bersifat teoritis ada juga yang bersifat praktek.  Yang bersifat teoritis dan praktek  masing-masing memiliki gradasinya sendiri-sendiri.  Oleh karena itu sangatlah tidak mungkin sebuah model dan metode pembelajaran berlaku sama untuk semua pokok bahasan.  Dengan demikian maka guru dituntut untuk  dapat kreatif dan inovatif dalam  pengembangan metode dan media pembelajaran.

Dalam sebuah inovasi pembelajaran, sebuah inovasi hendaklah  mengarahkan desain pembelajaran untuk selalu bervariatif dan dinamis.  Dalam membuat inovasi pembelajaran guru dituntut untuk  menemukan dan menuangkan ide-ide baru tentang  model pembelajaran  yang dibingkai dengan nilai-nilai islam.  Sejalan dengan hal tersebut berbagai kegiatan belajar mengajar  perlu didesain  untuk menciptakan  memlihara konsentrasi dan ketertarikan belajar siswa.  Proses inovasi pembelajaran. Misalnya  dimulai dari beragam langkah pembelajaran, media belajar atau evaluasi.

Istilah inovasi tiada henti sangat relevan dengan yang telah digunakan perlu dievaluasi keefektifannya.  Apabila dirasa belum efektif,  maka perlu  terus menerus diupayakan  kebaikannya sehingga akan terkumpul  banyak metode pembelajaran  efektif.  Metode-metode tesebut dapat di share dengan guru lain atau menjadi koleksi untuk digunakan pada masa-masa yang akan datang.  Disisi lain,  apabila sebuah metode pembelajaran telah terbukti efektif, maka seorang guru  inovatif akan terus berupaya  mencari metode baru untuk diterapkan dalam pokok bahasan  yang berbeda atau pokok bahasan  yang sama untuk dilihat tingkat keefektifannya.

6. Motivatif

Kegiatan belajar mengajar harus mampu membangkitkan motivasi berprestasi  pada peserta didik.  Dengan tumbuhnya need aghievement pada setiap siswa, maka dia akan selalu  menjadikan seluruh aktivitasnya untuk meraih prestasi.  Untuk dapat membangkitkan  kebutuhan untuk selalu  meraih prestasi,  maka setiap pengalaman belajar anak haruslah dirasakan sebagai suatu pengalaman  yang menyenangkan sekaligus menantang.

Kegiatan belajar mengajar harus dirancang sedemikian rupa sehngga terjadi proses yang interaktif antara peserta didik  dengan sumber dan media belajar.  Disinilah pentingnya kemampuan guru untuk  membuat suasana dan cara belajar  dengan menggunakan berbagai pendekatan yang atraktif, yang pada dasarnya adalah merangsang  seluruh indera peserta didik dan memanipulasi ranah kognitif, afektif, serta konatif sekaligus.

Berbagai pendekatan atraktif antara lain : simulasi, role playing, eksperimen, eksplorasi,observasi, kompetisi, kooperasi (team work), proyek, brainstorming, diskusi dan seminar, lokakarya.  Semua metode dapat diterapkan  dengan menggununakan  problem solving based   learning, research based learning.  Sebaliknya, kegiatan belajar mengajat yang mengandalkan stimulasi kognitif cenderung akan membosankan , dan potensial mengancam runtuhnya need of achievement  pada peserta didik.  Apalagi bila muatan  kurikulum terasa berat, sehingga belajar menjadi suatu beban yang melelahkan dan menjemukan.

Lingkungan belajar yang motivatif juga harus memunculkan iklim sekolah yang sehat yang ditandai dengan pola  interaksi dan pergaulan  yang hangat bersahabat antara seluruh tenaga pendidik dengan anak didik tanpa kehilangan  dan kewibawaan mereka.

III.  PENUTUP

3. 1. Kesimpulan

1. Kesimpulan yang dapat ditarik dari isi pembahasan makalah ini yaitu pendidikan hendaknya menjadikan Al-quran dan Assunnah sebagai rujukan dan manhaj asasi  (pedoman dasar) bagi penyelenggaraannya dan proses pendidikan. Memadukan antara agama dan sains sebagai suatu yang saling berkaitan dan saling mendukung, harus bersifat universal, integral, harmonis, dan berlangsung sepanjang hayat

2. konsep pendidikan yang diterapkan pada sekolah islam terpadu yaitu rabbaniyah, integratif, stimulatif, fasilitatif, inovatif dan motivatif

3.2.  Saran

Kebangkita dan kejayaan suatu kaum tidak akan pernah  sukses kalau sendi dan pilar pendidikannya rapuh.  Menjayakan sekolah merupakan  suatu keniscayaan (compulsory) yang tidak terbantahkan baik ditinjau dari aspek logis, idelais dan filosofis maupun historis.  Sekolah islam  seharusnya memainkan peranan  yang penting dalam memajukan  mutu pendidikan, baik untuk dirinya maupun dalam konteks pendidikan nasional.  Pendidikan islam bersendikan pada pengembangan model sekolah yang mengacu  kepada azas-azas pendidikan sebagaimana disyaratkan dalam Al-Qur’an dan As Sunnah, dan di inspirasi oelh temuan-temuan riset pendidikan  dan pengalaman sekolah-sekolah modern kelas dunia.

Setidaknya, dikalangan masyarakat, upaya peningkatan mutu  sekolah islam mulai bergerak dengan munculnya sekolah islam terpadu.  Beberapa pihak mulai menyadari pentingnya membangun sekolah/ lembaga islam yang berwawasan visioner dan global.  Demikian pula komunikasi jaringan antar sekolah-sekolah islam mulai marak di 5 tahun terakhir.  Upaya-upaya yang ada, meskipun belum membuahkan hasil yang optimal, paling tidak ada kesadaran kolektif akan pentingnya membangun  pendidikan islam yang bermutu, guna menyiapkan generasi yang beriman, bertajwa, cerdas dan terampil. Perlu mendapat dukungan semua pihak.

DAFTAR PUSTAKA

Al- Hadist

Al-Qur’an

Al-Juhra.  2008.  Konsep Pendidikan Islam Di Indonesia Menurut Muhammad Natsir (Relevansi Pemikiran Muhammad Natsir Terhadap Pendidikan Islam Di Indonesia Secara Integral. Yogyakarta. Universitas Islam Indonesia

Primarnie, Armie.  2005. Membangun kerangka pendidikan islam menuju konsep pendidikan monokotomik holistic. Seri Kajian Pendidikan Islam. Jakarta.

_ _ _ _ _. 2006.  Sekolah Islam Terpadu (Konsep dan Aplikasinya). Jakarta. JSIT Indonesia

Riza, syahrul. 2008. Konsep Pendidikan Islam Menurut Pemikiran Ibnu Khaldun : Suatu Kajian Tentang Elemen-Elemen Masyarakat Islam. Pulau Penang, Malaysia.  Universitas sains Malaysia

Umam, Khoirul H.  2006. Menyusuri Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam Indonesia. Jakarta.  Rajawali Press

Wafa. M Agus Khoirul.  2009.  Tujuan dan Sasaran Pendidikan Islam. Yogyakarta. Universitas Islam Indonesia.

Komentar ditutup.